Thursday, February 14, 2013

KUMPULAN SINOPSIS CERPEN “DAUN KERING” Karya : TRISNO SUMARDJO


Kumpulan cerpen karya Trino Sumardjo ini ada sembilan buah cerpen. Semuanya memiliki sudat pandang orang ketiga serba tahu (omniscient). Ejaan karyanya ini juga menggunakan ejaan lama dan meggunakan bahasa yang indah. Cerita di dalam cerpennya hampir berhubungan dengan masa perang baik pra maupun pasca.
1.      DAUN KERING
Cerpen ini mengisahkan seorang yang berada di wilayah yang suram. Wilayah itu merupakan wilayah penyesatan, pelalaian dan penguburan, namanya adalah Bawah Sadar dan jalannya bernama Bawah Alam. Orang itu mendengar nama-nama tersebut dari dua orang yang bercakap-cakap mengenai wilayah itu.
Wilayah itu dulunya makmur, namun wilayah itu tandus karena penduduknya tak berdaya. Penduduk tersebut kehabisan tenaga oleh pergulatan berebut kekuasaan. Mereka semua dibutakan oleh keserakahan sehingga negaranya kering tandus. Tetapi, ada juga yang berjiwa besar tetapi tidak dihiraukan malahan disingkirkan oleh orang-orang yang serakah itu.
Seorang yang berada di wilayah itu tadi dengan tubuh yang lemas menuju ke batu karang. Ia menemukan banyak sekali mayat-mayat yang hangus. Mayat-mayat itu adalah kaum pejuang muda. Jasa mereka hanya ditandai dengan tugu-tugu peringatan. Sungguh ironi, ditambah lagi yang tinggal di wilayah itu adalah kurcaci yang cerewet, licik dan memiliki tabiat yang jahat. Kurcaci itu suka memakan habis semua yang tumbuh di wilayah itu.
Setelah dari batu karang orang itu ditinggal oleh dua orang yang bercakap-cakap yang ternyata adalah kawanya sendiri. Tak sampai disitu, ia kini diserang oleh kurcaci jahat itu dan dunia semakin gelap dan dingin baginya.
Tapi tidak, ternyata dia bangun. Ternyata itu adalah kayalan di saat ada hujan dan angin ribut disekitar rumahnya.



2.      TIGA HARI DI DUNIA
Cerpen ini mengisahkan tentang  perjuangan seorang wanita untuk melahirkan buah hatinya yang pertama. Tini yang merupakan nama wanita itu, menjalani tugas seorang ibu yaitu mengandung. Untuk menjalani masa itu sangatlah berat apalagi itu adalah pertama kalinya ia mengandung.
Suaminya mengira-ngira bahwa segala tekanan yang ada pada Tini akan melahirkan anak yang kuat. Di saat tengah malam, Tini mulai nyeri dan pucat sehingga suaminya mengantarkan dia ke klinik. Sesampainya di sana, perawat klinik itu memeriksa kandungan Tini. Ia berkata bahwa Tini sangat lemah juga kandungannya. Sebab lemahnya itu karena ia tak mengkonsumsi vitamin sehingga kandungannya terlambat melahirkan satu bulan. Akhirnya, ia menjalani proses operasi. Rasa berdebar kian menyelubungi hati suami Tini. Ia mengalihkan dengan mempersiapkan nama untuk calon bayinya itu.
Semua perjalanan yang berat itu akhirnya membuahkan hasil, lahirlah bayi perempuan yang cantik parasnya. Namun, setelah tiga hari bayi itu meninggal oleh karena jantungnya lemah. Sang suami sedih akan kenyataan itu. Ia berusaha pelan-pelan memberitahu Tini agar ia tak kaget mendengar berita itu.
Mendengar berita itu Tini berjanji tidak akan mau merasa tersiksa seperti itu lagi. Tapi takdir memanglah takdir Tini dan suaminya hanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada buah hatinya yang hanya berumur tiga hari itu.
3.      TUAN SJEK JANG MENGAGUMKAN
Cerpen ini mengisahkan tentang perjalanan seseorang yang hebat. Orang hebat itu bernama tuan Sjek. Ia memeliki perawakan yang tua, gagah dan bijaksana. Umurnya padahal 26 tahun tetapi ia sudah mempunyai janggut panjang dan pengalaman yang sangat banyak.
Bersamaan pula di jaman itu merupakan jaman yang penuh dengan pembedaan ras, suku dan agama. Orang-orang memiliki sifat yang individual dan materialistis. Namun, kehadiran Tuan Sjek yang memiliki pengalaman dan pengetahuan banyak itu telah membuka mata orang-orang akan nilai-nilai sebuah kehidupan yang beragam.


4.      KABUT DIKAKI LANGIT
Cerpen ini mengisahkan tentang anak muda yang berjuang di kala perang. Bersama dengan pemuda-pemuda yang lain dan penduduk negerinya, semuanya bekerjasama mempertahakan tanah mereka. Semula rumah-rumah penduduk itu adalah tempat tinggal yang nyaman kini menjadi menjadi markas-markas para gerilyawan.
Pak Rohadi yang merupakan pemimpin pasukan pemuda-pemuda itu memberikan arahan dan perintah untuk bersiasat melawan para penjajah itu. Ia juga memberikan nasehat kepada para pejuang agar semangat untuk mempertahankan tanah air mereka.
Di belakang gunung Merbabu juga ada pasukan pembela tanah air. Pasukan itu dipimpin oleh Pak Sasono. Pasukan ini paling dekat dengan Belanda. Dengan posisi itu dari arah kejauhan helikopter Belanda terlihat melewati wilayah status quo mereka. Tepat di depan posisi persembunyian mereka merupak garis yang terlarang bagi para penduduk dan penjajah sekalipun.
Asap bergumpal-gumpal memenuhi wilayah dekat garis terlarang itu. Pasukan pribumi tak mampu melihat dengan mata telanjang apa yang terjadi di sana. Salah satu dari pejuang muda itu berusaha melihatnya. Ia mengira itu merupakan kabut dari embun pagi.
Lalu dilanjutnya tugas mereka untuk memata-matai musuh. Namun, kabut itu lama kelamaan terlihat merah-jingga. Tubuh pemuda itu terepelanting beserta yang lain. Lantas semuanya menjadi sunyi. Dua hari kemudian surat–surat kabar memuat berita bahwa Belanda melanggar lagi wilayah status quo.

5.      HAWA PANAS DALAM KERETA-API
Cerpen ini mengisahkan tentang keaadaan di dalam kereta api Indonesia di masa seusai kemerdekaan. Di dalam kereta api ini ada beratus-ratus orang yang masuk di dalamnya. Dahulu kereta api itu membedakan kelasnya, tetapi kini di sana semua menjadi satu karena adanya masa kemerdekaan. Sehingga dapat terlihat berbagai kalangan seperti prajurit, pengusaha, bahkan ibu rumah tangga ada di situ. Hingga ada kejadian bahwa dua prajurit di kereta api itu kehilangan karcis dan terjadi perdebatan dengan petugasnya. Kedua prajurit itu menyuruh petugas untuk menarik karcisnya itu kepada pemerintah karena sekarang mereka tak memiliki uang sepeserpun.
Kejadian itu terdengar dan disaksikan pula oleh penumpang yang lain dan menyebab orang-orang membela kedua prajurit itu. Mereka merasa sependapat dengan kedua prajurit yang pulang tanpa penghargaan dari pemerintah bahkan tak memiliki sepeser uangpun.

6.      DIA AKAN BERKEMBANG
Cerpen ini mengisahkan tentang pohon dan manusia yang berada didekat jendela. Pohon itu tumbuh dengan cepat beserta rumput-rumput di taman. Meskipun berganti musim, pohon itu masih menikmati kehidupannya di alam.
Suatu hari ia mendengar suara dua manusia sendang bercakap-cakap dibalik jendela. Kedua manusia itu sedang membicarakan dia. Tampaknya salah satu dari manusia itu ingin memindahkan dirinya bila tidak berbuah banyak. Ia mulai sadar bahwa manusia lebih berkuasa atas hidupnya yang dapat membuangnya bila dirasa tidak menguntungkan.
Semenjak itu terjadilah pertarungan seru di bawah tanah. Si pohon tiap hari mulai memamerkan kesuburanya bila ia melihat manusia di dekat jendela. Hampir usahanya itu behasil, tiba-tiba badai datang dan separuh dari batanganya jatuh ke tanah.
Beberapa waktu kemudian luka pohon itu sembuh dan tumbuh tunas baru. Tanpa diduga olehnya, serangan ulat datang menggerogoti tunasnya itu. Untunglah ada mahkluk bernama burung yang membasmi musuhnya itu.
Di sisi lain, manusia itu juga memiliki perputaran nasib yang sama dengan si Pohon. Manusia itu bersama sesamanya yang lain mempertahankan dirinya dari serangan penjajah entah karena mereka gerilyawan ataupun tentara.
Keesokan harinya ketika manusia itu membuka jendelanya, ia melihat bahwa masih ada ulat yang tertinggal sehingga daun-daun pohon itu nyaris habis. Manusia itu lalu membakar tubuh ulat-ulat itu bersamaan dengan tubuh pohon itu. Lalu esok harinya manusia itu pergi.
Ketika suasana di negeri manusia itu aman, Ia kembali dan pohon itu berkembang serta berbuah lebat, mengingatkan manusia itu akan perjuangan melawan musuh dikehidupnya dahulu.

7.      TOPENG
Cerpen ini mengisahakan ahli sungging yang tak dikenal. Namanya adalah Pak Atmo. Ia hidup bersama isntrinya di sebuah dusun yang sunyi yang bernama Sedayu. Dusun itu sangat sepi sesuai dengan kedaan Pak Atmo. Dahulu mereka mempunya tiga anak, namun semuanya telah tiada akibat perang. Akhirnya mereka pindah ke dusun Sedayu.
Meski hidupnya kecukupan bersama istri, Pak Atmo merasa sangat sepi. Ia sudah kehilangan buah hati yang amat ia cintai. Semua rasa itu dituangkanya dalam media yaitu topeng. Ia membentuk wajah anaknya lewat pahatan topengnya. Hingga akhirnya ia meninggal setelah membuat topeng anaknya yang terakhir oleh karena usianya telah lanjut. Istrinya  lalu mengikutinya dan mereka saling bertemu dengan ketiga anaknya di surga.

8.      LAHIRNYA LESTARI
Cerpen ini mengisahkan kembali tokoh Tini yang sebelumya ada pada cerpen “Tiga Hari Dunia”. Kini Tini mengandung kembali. Sudah dua tahun ia bersama suaminya dirundung kekecewaan akibat kegagalan melahirkan buah hatinya. Namun, kini Tini telah sehat dan besar badannya  tak seperti dahulu.
Sebelum menjelang sembilan bulan, ia menginginkan ibunya untuk menemaninya. Bersama ibunya, Tini sangat gembira karena dirawat dengan sangat penuh kasih sayang. Ia diberi jamu, perawatan sampai nasehat-nasehat untuk sukses menjalani proses melahirkan.
Akhirnya, meski ada kesulitan di hari kelahiran calon bayi, ia berhasil melahirkan bayinya ke dunia berkat berbagai usahanya terutama ibu dan suaminya. Bayi yang keluar dari rahim Tini itu bersama suaminya diberi nama Lestari.

9.      KENJANG ANGIN
Cerpen ini mengisahkan seseorang yang telah lama sakit di rumah sakit. Nama orang itu adalah Pak Kiman. Ia menderita penyakit yang berat. Limpa dan hati Pak Kiman sudah sangat besar, penyakit anemia-nya semakin menjadi, dan terkena batu ginjal. Nasib pak Kiman tak berkesudahan, ia ditinggal oleh istrinya menikah oleh karena tak tahan membayar obatnya. Ia hidup sebatang kara dengan penyakitnya yang kian hari kian menjadi.
Suatu hari ada seorang pengunjung mengajak bicara dan menanyai riwayat hidupnya yang menyedihkan. Pada tema pembicaraannya menuju kearah saudara, Pak Kiman ingat hanya ada satu saudaranya di Padang yang mau membantu soal keuanganya, namun selama 40 tahun hidup ia tidak mampu membaca dan menulis. Akhirnya, pengunjung itu membantu menuliskan surat kepada saudara satu-satunya Pak Kiman itu. Kiriman uang telah diberi, namun uang itu tak cukup untuk membayar semua hutang obat.
Waktu terus berjalan, perut Pak Kiman terasa lapar karena makanan yang masuk ke dalam perutnya hanya sedikit dan seringkali dipenuhi angin di perutnya yang sakit sekaligus lapar itu. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pengunjung itu, Pak Kiman menghembuskan nafas terakhirnya.

2 comments:

  1. Kak boleh copy buat contoh membuat sinopsis cerpen?
    Boleh ya, please

    ReplyDelete
  2. itu cuman sinopsisnya yah cerpennya ngga ada?

    ReplyDelete