(Inspirasi dari cerita rakyat
dari Jawa Timur “Putri Nglirip”)
Beradu dengan letupan minyak goreng itu sudah kegiatan
lazimku. Berciuman dengan dinginnya ubin itu sudah kewajiban. Berdendang dengan
bulu kemocing itu sudah mendaging. Apa boleh buat? mau merengek pada ibu justru
beliaulah yang membuatku seperti ini. Hanya sang pemberi nafas yang bisa
kutumpahkan duka-duka yang lebih banyak dibanding suka ini. Aku meminta
kepada-Nya supaya roh ibu dimaafkan dari segala hitamnya.
Dia memang Maha baik. Aku tumbuh besar dengan mandiri. Aku
melancong untuk hidup sebagai manusia selayaknya. Dapat kerja di kantoran
bermodal ijasah SMA menjadi hal yang mustahil bagi wanita bertubuh tambun,
berkulit sawo matang yang jelas sering bersentuhan dengan panasnya surya
apalagi berasal dari dusun yang kumpulnya dengan ayam. Sudah pasti pilihan
lowongan kerjanya yaitu pegawai pabrik, atau paling yakin jadi pembantu.
Pembantu adalah aku. Tapi ini bukan jadi ceritaku tapi
cerita majikanku.
***
“Bik, saya pamit pergi dengan ibu” Rama berkata sambil
meneteng koper hitamnya. “Jaga Dyah dan mbak-mbaknya” tambahnya sembari
membenahi dasi yang menjuntai tampak sekali beliau sedang terburu-buru. “Inggih Rama saya siap selalu” jawabku
dengan nada semangat dimaksudkan supaya Rama dapat percaya dengan kerjaku nanti
seusai beliau berangkat. “ Sepulang kami, rumah harus tanpa cela seperti ini”
kata Kanjeng tegas namun dengan
tatapan penuh percaya. “Inggih Kanjeng
” jawabku sambil memberi hormat dan anggukan yang menurutku itu menambah
keyakinan sang majikan bahwa aku bertanggung jawab semuanya di rumah ini.
Pagi pukul 02.00 itu menjadi waktu penanda bahwa Rama dan
Kanjeng berangkat ke Surabaya. Langit masih terlelap, bulan masih bertengger di
atasnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk membaringkan diri pada empuknya bulu angsa berbalut dengan sarung
yang kita namakan bantal. Membuat cerita dimensi yang nakal dengan mata
terpejam bukan menjadi dosa bila dilakukan di waktu ini. Tapi menjadi dosa bila
aku yang melakukan kegiatan-kegiatan itu untuk saat ini. Aku harus berjaga dan
menyiapkan segalanya.
Aku mulai dengan membereskan isi kamar Rama dan Kanjeng. Naluri
seorang pesuruh sepertiku yang jelas
tanpa disuruh sudah menjadi kewajiban mulai beraksi. Sambil menggenggam sapu
ijuk aku
telusuri lantai-lantai yang sebenarnya tak kotor mungkin hanya debu yang tidak
sampai sekuku. Sampai akhirnya di depan pintu kamar Dyah. Dyah adalah putri
yang dianggap si bungsu dari hasil perkawinan kedua Rama dengan Kanjeng. Rama
pernah memiliki istri namun telah meninggal sebab penyakit kanker yang di jaman
ini lagi terkenal. Entah penyakit apa itu, tapi penyakit itu penyakit yang tak
bisa dihalau ancamannya. Aku memang tak mengenal istri pertama Rama tersebut.
Ia telah tiada sebelum aku menanjakan kaki di ubin rumah ini.
Dyah punya paras yang ayu. Ia memiliki dua lesung pipit
yang membantunya tampak manis bila tersenyum. Rambutnya yang hitam legam
dilengkapi bentuknya yang berombak bak air laut bergulung-gulung di laut.
Hidungnya yang mungil dan mancung serta mulut yang tipis merah merekah menambah
daya tarik kaum adam. Di usia 18 tahun menuju 19 ia semakin kemilau atas
prestasi-prestasinya pula.
“ Klek..” bunyi seorang sedang membuka pintu yang
membuyarkan lamunanku.
“Bibik, ngapain bengong di depan pintu? pagi-pagi kok ngelamun?”
Suara merdu itu benar-benar menghangatkanku yang tadi setengah kaget.
“Eh, maaf non tadi saya habis nyapu-nyapu dari subuh tadi”
jawabku sambil terkekeh. “Bapak tadi pergi ke Surabaya sama ibu katanya nona
Dyah sama mbak-mbaknya baik-baik di rumah” jelasku kepada Dyah.
Kali ini wajah yang
ayu itu mulai surut berganti wajah suram yang bila dilihat sangat teramat
disayang. Aku tahu bahwa ia kecewa bukan karena pesan Rama yang tadi
kusampaikan tapi karena kepergian Rama. Ia akan jadi bulan-bulanan kakak-kakaknya
dari istri pertama Rama. Seperti kisah anak tiri lainnya, namun Dyah bukan
sebagai korban kekejaman fisik.
“Kau tak pergi pula?” tanya Dewi yang bersandar di tiang
tangga yang ternyata dari tadi mendengar pembicaraanku. Dyah membungkam. Dewi
menampakan wajah ingin tahu sambil melipatkan tangannya di depan dada.
Keigingintahuannya bukan sebagai rasa penasaran. Seperti mencengkeram leher
semampai Dyah dengan tatapan tajam. Aku hanya diam sambil menggenggam erat
pegangan sapu. Ingin menampar mulut jahat itu namun aku siapa? genggaman ini
semakin mengeras tapi mungkin cukup di sini saja. “Nikmati harimu dengan kami”
kata Dewi sambil lewat di depan aku dan Dyah. Mungkin malas untuk menunggu
jawaban dari pertanyaan tanpa jawaban. Dan itu adalah penanda waktu derita di
mulai dari sekarang.
***
Hari tak mau tetap pada ini ia berjalan ikut dengan jam
yang tak mau menunggu detik yang selalu berlalu mengitari waktu. Perjalanan
Rama dan Kanjeng belum juga pada akhir. Siksa batin juga tak kunjung henti
seperti yang terjadi pada diri Dyah. Dirinya yang biasanya mau ku beri susu
tiap pagi mulai menolaknya. Kali ini lebih sering mengurung di kamar. Malam
dilewatinya dengan kamar yang masih menyala hingga fajar menyingsing. Bila aku
masuk ke kamarnya air mukanya bukan seperti wanita yang patah hati karena cinta.
Air mukanya kering karena haus akan buaian kasih sayang. Yang aku tahu ia bukan
seorang si cantik Srikandi yang mencari Arjuna. Paras indahnya justru buatnya
menjadi beban yang teramat berat.
Di suatu malam yang tanpa bulan Dyah mengeluarkan peluh yang
tak berkesudahan. Aku masuk ke kamarnya. “Non, bibik takut Rama marah. Non
jangan buang air mata terus,ya!” kataku sambil mengelus rambut berombaknya yang
indah. Rambutnya harum dan lebat membuat tangan siapapun ingin merabanya. Namun
daya tarik rambut itu kini menjadi berubah fungsi sebagai penenang hatinya yang
hancur karena mulut usil saudari-saudarinya.
“Dok,dok,dok,” tiba-tiba suara ketukan pintu yang
sepertinya ingin merusak pintu itu. “Kalau nangis jangan di sini jemput ayah
biar ia menimangmu!” suara tinggi dari balik pintu yang kedengaranya sangat
familiar tidak lain itu adalah suara dari Dinda. Mendengar itu suara tangisan
yang semula berusaha untuk mengeluarkan semua air di mata Dyah kini tinggal
tatapan kosong bercampur tetesan air mata yang terus mengucur tanpa suara.
Jam dinding bersuara untuk mendentingkan detiknya. Begitu
juga dengan Dyah yang kini angkat bicara ke padaku yang setia mendampingi
malamnya di kamar paling indah di rumah ini. “Bibik sekarang tidur di kamar
sendiri saja. Saya tidak apa-apa sendirian” kata Dyah. Aku sebagai pembantu
hanya sebagai pembantu yang wajib menjaga majikan apalagi majikan yang amat
special sepertinya. Aku tak bisa berbuat lebih karena aku hanya sebagai kaki.
Ribuan rayuan kusuguhkan supaya ia berhenti meratapi semua kata tajam dari
saudari-saudarinya. “Baiklah,Saya ke kamar saya asal non bisa tidur” kataku.
“Jangan khawatirkan saya. Bibik istirhat saja” jawab Dyah sambil tersenyum
sedikit mengurangi raut wajah yang suram itu. Dengan pernyataannya yang buatku
yakin maka aku meninggalkan Dyah sendirian mungkin ia ingin merenunginya.
***
“Ting tong” bunyi bel tanda bahwa ada yang datang. Rama dan
Kanjeng datang ini adalah akhir dari tangisan Dyah. Aku segera menyongsong ke
depan dan menyambut mereka dengan teramat bahagia seperti menghirup udara segar
yang amat nikmat. “Ayah!” tiba-tiba 2 gadis berteriak sangat ramai datang
dengan sikap kekanak-kanakan. Melihat pemandangan itu aku hanya tersenyum
sedang melihat Rama namun aku ngeri melihat wajah srigala berbulu domba kedua
gadis itu. “Mana Dyah?” Tanya Rama. “Masih tidur, Rama” jawabku sambil
membawakan semua bawaan yang terlihat banyak bingkisan yang sangat
menyenangakan. Tak sabar ingin bertemu dengan gadis kesayangannya Rama menuju
kamar Dyah. Ia mengetuk pintu dengan raut wajah amat sumringah. Ketukan pintu
itu tak dijawab oleh penhuni kamar itu. Berkali-kali Rama melakukan hal yang
sama. Akhirnya ia memegang gagang
pintu dan pintu tidak kunci. Setelah melihat isi kamr itu wajah Rama berubah
180% menjadi geram memanggil-manggil aku sangat keras. “Pesan saya tidak kau
lakukankah?” tanyanya dengan suara
gempar. “Tidak Rama, Nona semalam ada di sini. Selama Rama pergi ia mengurung
diri di kamar tak mau makan” jawabku takut. Dengan sikap Rama yang tidak tahan
lagi aku ceritakan semua kejadian yang menyebabkan Dyah sedih dan sekarang
kabur dari rumah. Ku lontarkan semua yang mebuatnya sedih berkepanjangan sempat
Dyah berkata bahwa ia tak mau dilahirkan sebagai gadis yang sempurna di mata
manusia sekalipun.
Sigap dan mengejutkan suara
tamparan menghujani pipi-pipi saudara-saudara Dyah. Rama tak berpikir panjang.
Ia menyuruh mereka mencari saudaranya yang sedang nelangsa itu. “ Kalian itu ular. Hati kalian juga busuk termakan
iri dengki. Cari adikmu jangan kembali sebelum dapat” ucap Rama yang luap
geramnya. Beliau pula mencari dengan mengerahkan semua pegawai. Hatinya meledak
bagai gunung api yang semburkan larva.
***
“Selamat pagi pemirsa di beritakan
penemuan mayat seorang gadis berumur 19 tahun tewas di dekat pemandian air
terjun Nglirip. Mayat gadis tersebut
ditemukan warga sekitar air terjun Nglirip di daerah Tuban. Diperkirakan tewas
diakibatkan tenggelam di sungai air terjun tersebut. Sekian berita dari Hot
News” suara tegas dari pembawa berita di televisi tadi pagi.
***
Ayah,
aku pergi untuk saudara-saudaraku. Aku ingin kau beri semua milikmu pada
mereka. Tak usah peduli bila aku jadi apa, tak usah peduli aku hidup dengan
siapa. Aku baik-baik saja. Aku punya ini semua untuk hidupku kelak. Tenang saja
aku kan anak ayah yang paling hebat untuk ayah. Mbak-mbakku didandani yang
cantik biar mereka lebih hebat dari aku.
Salam cinta dari anakmu,
Dyah Kusuma
Surat sepesial untuk Rama dari
kamar Dyah Kusuma.
No comments:
Post a Comment