Thursday, February 14, 2013

Cerpen: DYAH

(Inspirasi dari cerita rakyat dari Jawa Timur “Putri Nglirip”)

Beradu dengan letupan minyak goreng itu sudah kegiatan lazimku. Berciuman dengan dinginnya ubin itu sudah kewajiban. Berdendang dengan bulu kemocing itu sudah mendaging. Apa boleh buat? mau merengek pada ibu justru beliaulah yang membuatku seperti ini. Hanya sang pemberi nafas yang bisa kutumpahkan duka-duka yang lebih banyak dibanding suka ini. Aku meminta kepada-Nya supaya roh ibu dimaafkan dari segala hitamnya.
Dia memang Maha baik. Aku tumbuh besar dengan mandiri. Aku melancong untuk hidup sebagai manusia selayaknya. Dapat kerja di kantoran bermodal ijasah SMA menjadi hal yang mustahil bagi wanita bertubuh tambun, berkulit sawo matang yang jelas sering bersentuhan dengan panasnya surya apalagi berasal dari dusun yang kumpulnya dengan ayam. Sudah pasti pilihan lowongan kerjanya yaitu pegawai pabrik, atau paling yakin jadi pembantu.
Pembantu adalah aku. Tapi ini bukan jadi ceritaku tapi cerita majikanku.
***
“Bik, saya pamit pergi dengan ibu” Rama berkata sambil meneteng koper hitamnya. “Jaga Dyah dan mbak-mbaknya” tambahnya sembari membenahi dasi yang menjuntai tampak sekali beliau sedang terburu-buru. “Inggih Rama saya siap selalu” jawabku dengan nada semangat dimaksudkan supaya Rama dapat percaya dengan kerjaku nanti seusai beliau berangkat. “ Sepulang kami, rumah harus tanpa cela seperti ini” kata Kanjeng tegas namun dengan tatapan penuh percaya. “Inggih Kanjeng ” jawabku sambil memberi hormat dan anggukan yang menurutku itu menambah keyakinan sang majikan bahwa aku bertanggung jawab semuanya di rumah ini.
Pagi pukul 02.00 itu menjadi waktu penanda bahwa Rama dan Kanjeng berangkat ke Surabaya. Langit masih terlelap, bulan masih bertengger di atasnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk membaringkan diri pada empuknya bulu angsa berbalut dengan sarung yang kita namakan bantal. Membuat cerita dimensi yang nakal dengan mata terpejam bukan menjadi dosa bila dilakukan di waktu ini. Tapi menjadi dosa bila aku yang melakukan kegiatan-kegiatan itu untuk saat ini. Aku harus berjaga dan menyiapkan segalanya.
Aku mulai dengan membereskan isi kamar Rama dan Kanjeng. Naluri  seorang pesuruh sepertiku yang jelas tanpa disuruh sudah menjadi kewajiban mulai beraksi. Sambil menggenggam sapu ijuk aku telusuri lantai-lantai yang sebenarnya tak kotor mungkin hanya debu yang tidak sampai sekuku. Sampai akhirnya di depan pintu kamar Dyah. Dyah adalah putri yang dianggap si bungsu dari hasil perkawinan kedua Rama dengan Kanjeng. Rama pernah memiliki istri namun telah meninggal sebab penyakit kanker yang di jaman ini lagi terkenal. Entah penyakit apa itu, tapi penyakit itu penyakit yang tak bisa dihalau ancamannya. Aku memang tak mengenal istri pertama Rama tersebut. Ia telah tiada sebelum aku menanjakan kaki di ubin rumah ini.
Dyah punya paras yang ayu. Ia memiliki dua lesung pipit yang membantunya tampak manis bila tersenyum. Rambutnya yang hitam legam dilengkapi bentuknya yang berombak bak air laut bergulung-gulung di laut. Hidungnya yang mungil dan mancung serta mulut yang tipis merah merekah menambah daya tarik kaum adam. Di usia 18 tahun menuju 19 ia semakin kemilau atas prestasi-prestasinya pula.
“ Klek..” bunyi seorang sedang membuka pintu yang membuyarkan lamunanku.
“Bibik, ngapain bengong di depan pintu? pagi-pagi  kok ngelamun?” Suara merdu itu benar-benar menghangatkanku yang tadi setengah kaget.
“Eh, maaf non tadi saya habis nyapu-nyapu dari subuh tadi” jawabku sambil terkekeh. “Bapak tadi pergi ke Surabaya sama ibu katanya nona Dyah sama mbak-mbaknya baik-baik di rumah” jelasku kepada Dyah.
 Kali ini wajah yang ayu itu mulai surut berganti wajah suram yang bila dilihat sangat teramat disayang. Aku tahu bahwa ia kecewa bukan karena pesan Rama yang tadi kusampaikan tapi karena kepergian Rama. Ia akan jadi bulan-bulanan kakak-kakaknya dari istri pertama Rama. Seperti kisah anak tiri lainnya, namun Dyah bukan sebagai korban kekejaman fisik.
“Kau tak pergi pula?” tanya Dewi yang bersandar di tiang tangga yang ternyata dari tadi mendengar pembicaraanku. Dyah membungkam. Dewi menampakan wajah ingin tahu sambil melipatkan tangannya di depan dada. Keigingintahuannya bukan sebagai rasa penasaran. Seperti mencengkeram leher semampai Dyah dengan tatapan tajam. Aku hanya diam sambil menggenggam erat pegangan sapu. Ingin menampar mulut jahat itu namun aku siapa? genggaman ini semakin mengeras tapi mungkin cukup di sini saja. “Nikmati harimu dengan kami” kata Dewi sambil lewat di depan aku dan Dyah. Mungkin malas untuk menunggu jawaban dari pertanyaan tanpa jawaban. Dan itu adalah penanda waktu derita di mulai dari sekarang.
***
Hari tak mau tetap pada ini ia berjalan ikut dengan jam yang tak mau menunggu detik yang selalu berlalu mengitari waktu. Perjalanan Rama dan Kanjeng belum juga pada akhir. Siksa batin juga tak kunjung henti seperti yang terjadi pada diri Dyah. Dirinya yang biasanya mau ku beri susu tiap pagi mulai menolaknya. Kali ini lebih sering mengurung di kamar. Malam dilewatinya dengan kamar yang masih menyala hingga fajar menyingsing. Bila aku masuk ke kamarnya air mukanya bukan seperti wanita yang patah hati karena cinta. Air mukanya kering karena haus akan buaian kasih sayang. Yang aku tahu ia bukan seorang si cantik Srikandi yang mencari Arjuna. Paras indahnya justru buatnya menjadi beban yang teramat berat.
Di suatu malam yang tanpa bulan Dyah mengeluarkan peluh yang tak berkesudahan. Aku masuk ke kamarnya. “Non, bibik takut Rama marah. Non jangan buang air mata terus,ya!” kataku sambil mengelus rambut berombaknya yang indah. Rambutnya harum dan lebat membuat tangan siapapun ingin merabanya. Namun daya tarik rambut itu kini menjadi berubah fungsi sebagai penenang hatinya yang hancur karena mulut usil saudari-saudarinya.
“Dok,dok,dok,” tiba-tiba suara ketukan pintu yang sepertinya ingin merusak pintu itu. “Kalau nangis jangan di sini jemput ayah biar ia menimangmu!” suara tinggi dari balik pintu yang kedengaranya sangat familiar tidak lain itu adalah suara dari Dinda. Mendengar itu suara tangisan yang semula berusaha untuk mengeluarkan semua air di mata Dyah kini tinggal tatapan kosong bercampur tetesan air mata yang terus mengucur tanpa suara.
Jam dinding bersuara untuk mendentingkan detiknya. Begitu juga dengan Dyah yang kini angkat bicara ke padaku yang setia mendampingi malamnya di kamar paling indah di rumah ini. “Bibik sekarang tidur di kamar sendiri saja. Saya tidak apa-apa sendirian” kata Dyah. Aku sebagai pembantu hanya sebagai pembantu yang wajib menjaga majikan apalagi majikan yang amat special sepertinya. Aku tak bisa berbuat lebih karena aku hanya sebagai kaki. Ribuan rayuan kusuguhkan supaya ia berhenti meratapi semua kata tajam dari saudari-saudarinya. “Baiklah,Saya ke kamar saya asal non bisa tidur” kataku. “Jangan khawatirkan saya. Bibik istirhat saja” jawab Dyah sambil tersenyum sedikit mengurangi raut wajah yang suram itu. Dengan pernyataannya yang buatku yakin maka aku meninggalkan Dyah sendirian mungkin ia ingin merenunginya.
***
“Ting tong” bunyi bel tanda bahwa ada yang datang. Rama dan Kanjeng datang ini adalah akhir dari tangisan Dyah. Aku segera menyongsong ke depan dan menyambut mereka dengan teramat bahagia seperti menghirup udara segar yang amat nikmat. “Ayah!” tiba-tiba 2 gadis berteriak sangat ramai datang dengan sikap kekanak-kanakan. Melihat pemandangan itu aku hanya tersenyum sedang melihat Rama namun aku ngeri melihat wajah srigala berbulu domba kedua gadis itu. “Mana Dyah?” Tanya Rama. “Masih tidur, Rama” jawabku sambil membawakan semua bawaan yang terlihat banyak bingkisan yang sangat menyenangakan. Tak sabar ingin bertemu dengan gadis kesayangannya Rama menuju kamar Dyah. Ia mengetuk pintu dengan raut wajah amat sumringah. Ketukan pintu itu tak dijawab oleh penhuni kamar itu. Berkali-kali Rama melakukan hal yang sama. Akhirnya ia memegang gagang pintu dan pintu tidak kunci. Setelah melihat isi kamr itu wajah Rama berubah 180% menjadi geram memanggil-manggil aku sangat keras. “Pesan saya tidak kau lakukankah?” tanyanya dengan suara gempar. “Tidak Rama, Nona semalam ada di sini. Selama Rama pergi ia mengurung diri di kamar tak mau makan” jawabku takut. Dengan sikap Rama yang tidak tahan lagi aku ceritakan semua kejadian yang menyebabkan Dyah sedih dan sekarang kabur dari rumah. Ku lontarkan semua yang mebuatnya sedih berkepanjangan sempat Dyah berkata bahwa ia tak mau dilahirkan sebagai gadis yang sempurna di mata manusia sekalipun.
Sigap dan mengejutkan suara tamparan menghujani pipi-pipi saudara-saudara Dyah. Rama tak berpikir panjang. Ia menyuruh mereka mencari saudaranya yang sedang nelangsa itu. “ Kalian itu ular. Hati kalian juga busuk termakan iri dengki. Cari adikmu jangan kembali sebelum dapat” ucap Rama yang luap geramnya. Beliau pula mencari dengan mengerahkan semua pegawai. Hatinya meledak bagai gunung api yang semburkan larva.
***
“Selamat pagi pemirsa di beritakan penemuan mayat seorang gadis berumur 19 tahun tewas di dekat pemandian air terjun Nglirip. Mayat  gadis tersebut ditemukan warga sekitar air terjun Nglirip di daerah Tuban. Diperkirakan tewas diakibatkan tenggelam di sungai air terjun tersebut. Sekian berita dari Hot News” suara tegas dari pembawa berita di televisi tadi pagi.
***
Ayah, aku pergi untuk saudara-saudaraku. Aku ingin kau beri semua milikmu pada mereka. Tak usah peduli bila aku jadi apa, tak usah peduli aku hidup dengan siapa. Aku baik-baik saja. Aku punya ini semua untuk hidupku kelak. Tenang saja aku kan anak ayah yang paling hebat untuk ayah. Mbak-mbakku didandani yang cantik biar mereka lebih hebat dari aku.
          Salam cinta dari anakmu,

Dyah Kusuma
Surat sepesial untuk Rama dari kamar Dyah Kusuma.


No comments:

Post a Comment