Thursday, February 14, 2013

KUMPULAN SINOPSIS CERPEN “DAUN KERING” Karya : TRISNO SUMARDJO


Kumpulan cerpen karya Trino Sumardjo ini ada sembilan buah cerpen. Semuanya memiliki sudat pandang orang ketiga serba tahu (omniscient). Ejaan karyanya ini juga menggunakan ejaan lama dan meggunakan bahasa yang indah. Cerita di dalam cerpennya hampir berhubungan dengan masa perang baik pra maupun pasca.
1.      DAUN KERING
Cerpen ini mengisahkan seorang yang berada di wilayah yang suram. Wilayah itu merupakan wilayah penyesatan, pelalaian dan penguburan, namanya adalah Bawah Sadar dan jalannya bernama Bawah Alam. Orang itu mendengar nama-nama tersebut dari dua orang yang bercakap-cakap mengenai wilayah itu.
Wilayah itu dulunya makmur, namun wilayah itu tandus karena penduduknya tak berdaya. Penduduk tersebut kehabisan tenaga oleh pergulatan berebut kekuasaan. Mereka semua dibutakan oleh keserakahan sehingga negaranya kering tandus. Tetapi, ada juga yang berjiwa besar tetapi tidak dihiraukan malahan disingkirkan oleh orang-orang yang serakah itu.
Seorang yang berada di wilayah itu tadi dengan tubuh yang lemas menuju ke batu karang. Ia menemukan banyak sekali mayat-mayat yang hangus. Mayat-mayat itu adalah kaum pejuang muda. Jasa mereka hanya ditandai dengan tugu-tugu peringatan. Sungguh ironi, ditambah lagi yang tinggal di wilayah itu adalah kurcaci yang cerewet, licik dan memiliki tabiat yang jahat. Kurcaci itu suka memakan habis semua yang tumbuh di wilayah itu.
Setelah dari batu karang orang itu ditinggal oleh dua orang yang bercakap-cakap yang ternyata adalah kawanya sendiri. Tak sampai disitu, ia kini diserang oleh kurcaci jahat itu dan dunia semakin gelap dan dingin baginya.
Tapi tidak, ternyata dia bangun. Ternyata itu adalah kayalan di saat ada hujan dan angin ribut disekitar rumahnya.



2.      TIGA HARI DI DUNIA
Cerpen ini mengisahkan tentang  perjuangan seorang wanita untuk melahirkan buah hatinya yang pertama. Tini yang merupakan nama wanita itu, menjalani tugas seorang ibu yaitu mengandung. Untuk menjalani masa itu sangatlah berat apalagi itu adalah pertama kalinya ia mengandung.
Suaminya mengira-ngira bahwa segala tekanan yang ada pada Tini akan melahirkan anak yang kuat. Di saat tengah malam, Tini mulai nyeri dan pucat sehingga suaminya mengantarkan dia ke klinik. Sesampainya di sana, perawat klinik itu memeriksa kandungan Tini. Ia berkata bahwa Tini sangat lemah juga kandungannya. Sebab lemahnya itu karena ia tak mengkonsumsi vitamin sehingga kandungannya terlambat melahirkan satu bulan. Akhirnya, ia menjalani proses operasi. Rasa berdebar kian menyelubungi hati suami Tini. Ia mengalihkan dengan mempersiapkan nama untuk calon bayinya itu.
Semua perjalanan yang berat itu akhirnya membuahkan hasil, lahirlah bayi perempuan yang cantik parasnya. Namun, setelah tiga hari bayi itu meninggal oleh karena jantungnya lemah. Sang suami sedih akan kenyataan itu. Ia berusaha pelan-pelan memberitahu Tini agar ia tak kaget mendengar berita itu.
Mendengar berita itu Tini berjanji tidak akan mau merasa tersiksa seperti itu lagi. Tapi takdir memanglah takdir Tini dan suaminya hanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada buah hatinya yang hanya berumur tiga hari itu.
3.      TUAN SJEK JANG MENGAGUMKAN
Cerpen ini mengisahkan tentang perjalanan seseorang yang hebat. Orang hebat itu bernama tuan Sjek. Ia memeliki perawakan yang tua, gagah dan bijaksana. Umurnya padahal 26 tahun tetapi ia sudah mempunyai janggut panjang dan pengalaman yang sangat banyak.
Bersamaan pula di jaman itu merupakan jaman yang penuh dengan pembedaan ras, suku dan agama. Orang-orang memiliki sifat yang individual dan materialistis. Namun, kehadiran Tuan Sjek yang memiliki pengalaman dan pengetahuan banyak itu telah membuka mata orang-orang akan nilai-nilai sebuah kehidupan yang beragam.


4.      KABUT DIKAKI LANGIT
Cerpen ini mengisahkan tentang anak muda yang berjuang di kala perang. Bersama dengan pemuda-pemuda yang lain dan penduduk negerinya, semuanya bekerjasama mempertahakan tanah mereka. Semula rumah-rumah penduduk itu adalah tempat tinggal yang nyaman kini menjadi menjadi markas-markas para gerilyawan.
Pak Rohadi yang merupakan pemimpin pasukan pemuda-pemuda itu memberikan arahan dan perintah untuk bersiasat melawan para penjajah itu. Ia juga memberikan nasehat kepada para pejuang agar semangat untuk mempertahankan tanah air mereka.
Di belakang gunung Merbabu juga ada pasukan pembela tanah air. Pasukan itu dipimpin oleh Pak Sasono. Pasukan ini paling dekat dengan Belanda. Dengan posisi itu dari arah kejauhan helikopter Belanda terlihat melewati wilayah status quo mereka. Tepat di depan posisi persembunyian mereka merupak garis yang terlarang bagi para penduduk dan penjajah sekalipun.
Asap bergumpal-gumpal memenuhi wilayah dekat garis terlarang itu. Pasukan pribumi tak mampu melihat dengan mata telanjang apa yang terjadi di sana. Salah satu dari pejuang muda itu berusaha melihatnya. Ia mengira itu merupakan kabut dari embun pagi.
Lalu dilanjutnya tugas mereka untuk memata-matai musuh. Namun, kabut itu lama kelamaan terlihat merah-jingga. Tubuh pemuda itu terepelanting beserta yang lain. Lantas semuanya menjadi sunyi. Dua hari kemudian surat–surat kabar memuat berita bahwa Belanda melanggar lagi wilayah status quo.

5.      HAWA PANAS DALAM KERETA-API
Cerpen ini mengisahkan tentang keaadaan di dalam kereta api Indonesia di masa seusai kemerdekaan. Di dalam kereta api ini ada beratus-ratus orang yang masuk di dalamnya. Dahulu kereta api itu membedakan kelasnya, tetapi kini di sana semua menjadi satu karena adanya masa kemerdekaan. Sehingga dapat terlihat berbagai kalangan seperti prajurit, pengusaha, bahkan ibu rumah tangga ada di situ. Hingga ada kejadian bahwa dua prajurit di kereta api itu kehilangan karcis dan terjadi perdebatan dengan petugasnya. Kedua prajurit itu menyuruh petugas untuk menarik karcisnya itu kepada pemerintah karena sekarang mereka tak memiliki uang sepeserpun.
Kejadian itu terdengar dan disaksikan pula oleh penumpang yang lain dan menyebab orang-orang membela kedua prajurit itu. Mereka merasa sependapat dengan kedua prajurit yang pulang tanpa penghargaan dari pemerintah bahkan tak memiliki sepeser uangpun.

6.      DIA AKAN BERKEMBANG
Cerpen ini mengisahkan tentang pohon dan manusia yang berada didekat jendela. Pohon itu tumbuh dengan cepat beserta rumput-rumput di taman. Meskipun berganti musim, pohon itu masih menikmati kehidupannya di alam.
Suatu hari ia mendengar suara dua manusia sendang bercakap-cakap dibalik jendela. Kedua manusia itu sedang membicarakan dia. Tampaknya salah satu dari manusia itu ingin memindahkan dirinya bila tidak berbuah banyak. Ia mulai sadar bahwa manusia lebih berkuasa atas hidupnya yang dapat membuangnya bila dirasa tidak menguntungkan.
Semenjak itu terjadilah pertarungan seru di bawah tanah. Si pohon tiap hari mulai memamerkan kesuburanya bila ia melihat manusia di dekat jendela. Hampir usahanya itu behasil, tiba-tiba badai datang dan separuh dari batanganya jatuh ke tanah.
Beberapa waktu kemudian luka pohon itu sembuh dan tumbuh tunas baru. Tanpa diduga olehnya, serangan ulat datang menggerogoti tunasnya itu. Untunglah ada mahkluk bernama burung yang membasmi musuhnya itu.
Di sisi lain, manusia itu juga memiliki perputaran nasib yang sama dengan si Pohon. Manusia itu bersama sesamanya yang lain mempertahankan dirinya dari serangan penjajah entah karena mereka gerilyawan ataupun tentara.
Keesokan harinya ketika manusia itu membuka jendelanya, ia melihat bahwa masih ada ulat yang tertinggal sehingga daun-daun pohon itu nyaris habis. Manusia itu lalu membakar tubuh ulat-ulat itu bersamaan dengan tubuh pohon itu. Lalu esok harinya manusia itu pergi.
Ketika suasana di negeri manusia itu aman, Ia kembali dan pohon itu berkembang serta berbuah lebat, mengingatkan manusia itu akan perjuangan melawan musuh dikehidupnya dahulu.

7.      TOPENG
Cerpen ini mengisahakan ahli sungging yang tak dikenal. Namanya adalah Pak Atmo. Ia hidup bersama isntrinya di sebuah dusun yang sunyi yang bernama Sedayu. Dusun itu sangat sepi sesuai dengan kedaan Pak Atmo. Dahulu mereka mempunya tiga anak, namun semuanya telah tiada akibat perang. Akhirnya mereka pindah ke dusun Sedayu.
Meski hidupnya kecukupan bersama istri, Pak Atmo merasa sangat sepi. Ia sudah kehilangan buah hati yang amat ia cintai. Semua rasa itu dituangkanya dalam media yaitu topeng. Ia membentuk wajah anaknya lewat pahatan topengnya. Hingga akhirnya ia meninggal setelah membuat topeng anaknya yang terakhir oleh karena usianya telah lanjut. Istrinya  lalu mengikutinya dan mereka saling bertemu dengan ketiga anaknya di surga.

8.      LAHIRNYA LESTARI
Cerpen ini mengisahkan kembali tokoh Tini yang sebelumya ada pada cerpen “Tiga Hari Dunia”. Kini Tini mengandung kembali. Sudah dua tahun ia bersama suaminya dirundung kekecewaan akibat kegagalan melahirkan buah hatinya. Namun, kini Tini telah sehat dan besar badannya  tak seperti dahulu.
Sebelum menjelang sembilan bulan, ia menginginkan ibunya untuk menemaninya. Bersama ibunya, Tini sangat gembira karena dirawat dengan sangat penuh kasih sayang. Ia diberi jamu, perawatan sampai nasehat-nasehat untuk sukses menjalani proses melahirkan.
Akhirnya, meski ada kesulitan di hari kelahiran calon bayi, ia berhasil melahirkan bayinya ke dunia berkat berbagai usahanya terutama ibu dan suaminya. Bayi yang keluar dari rahim Tini itu bersama suaminya diberi nama Lestari.

9.      KENJANG ANGIN
Cerpen ini mengisahkan seseorang yang telah lama sakit di rumah sakit. Nama orang itu adalah Pak Kiman. Ia menderita penyakit yang berat. Limpa dan hati Pak Kiman sudah sangat besar, penyakit anemia-nya semakin menjadi, dan terkena batu ginjal. Nasib pak Kiman tak berkesudahan, ia ditinggal oleh istrinya menikah oleh karena tak tahan membayar obatnya. Ia hidup sebatang kara dengan penyakitnya yang kian hari kian menjadi.
Suatu hari ada seorang pengunjung mengajak bicara dan menanyai riwayat hidupnya yang menyedihkan. Pada tema pembicaraannya menuju kearah saudara, Pak Kiman ingat hanya ada satu saudaranya di Padang yang mau membantu soal keuanganya, namun selama 40 tahun hidup ia tidak mampu membaca dan menulis. Akhirnya, pengunjung itu membantu menuliskan surat kepada saudara satu-satunya Pak Kiman itu. Kiriman uang telah diberi, namun uang itu tak cukup untuk membayar semua hutang obat.
Waktu terus berjalan, perut Pak Kiman terasa lapar karena makanan yang masuk ke dalam perutnya hanya sedikit dan seringkali dipenuhi angin di perutnya yang sakit sekaligus lapar itu. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pengunjung itu, Pak Kiman menghembuskan nafas terakhirnya.

Esai: SUARA SUNYI


Sebuah pembahasan mengenai karya sastra seorang sastrawan yang amat melegenda Trisno Sumardjo.

Tangisan yang tak bersuara, ledakan yang bisu, kesedihan yang tanpa peluh  keadaan seperti itu merupakan gambaran tentang tekanan masayarakat yang tak lagi mampu untuk menyatakan rasa sakitnya lagi. Kemanakah semua suara-suara mereka?.
Dalam era pasca kemerdekaan “diam” adalah emas. Demikian halnya dengan suara masyarakat Indonesia, semakin sedikit suara mereka terhadap pemerintah semakin aman hidup mereka pula. Ini dikarenakan para pejabat negara yang subur dan katanya makmur ini sibuk menggerus kekayaan negaranya ini. Mereka tak ingin ambil pusing untuk menyingkirkan masyarakat pribumi yang dianggapnya menghambat niat mereka. Sebagai salah satu makhluk pribumi, Trisno Sumardjo ingin menyentil telinga para pejabat itu melalui kumpulan cerpennya yaitu Daun Kering. 
Daun adalah bagian dari tanaman yang merupakan alat pernafasan dan pengelola makanan bagi tanaman itu sendiri. Jika daun itu kering maka tanaman itu akan kesulitan untuk tumbuh bahkan mati. Dengan definisi tersebut Trisno menyamakannya dengan kondisi masyarakat Indonesia di masa pasca kemerdekaan itu. Penggambaran daun-daun yang kering itu adalah masyarakat yang tak lagi berdaya.
Seakan-akan masyarakat hanya menjadi “sapi perah” oleh para pejabat-pejabat itu. Kaum pejuang tak ada artinya lagi bagi pemerintah, sampai-sampai tiket kereta api saja tak mampu dibayar. Hal ini tampak pada cerpen nomor limanya yang berjudul Hawa Panas Dalam Kereta-Api. Kejadian yang serupa namun tak sama juga ada pada cerpen yang berjudul Kenjang Angin. Di dalam cerpen itu, Trisno menyampaikan pesannya lewat tokoh utama yang bernama Pak Kiman. Kedua cerpen tersebut memiliki makna yang sangat dalam tentang ketidakadilan pemerintah yang seharusnya menyejahterahkan rakyatnya tanpa terkecuali.


Di Balik Ketidakadilan
 Meski keadaan masyarakat pada era kemerdekaan itu tidak sesuai dengan harapan dan kenyataannya disebut “merdeka”, di dalam diri tiap individu masyaakat Indonesia masih ada rasa tegar dan berjuang. Semangat untuk menghadapi terpaan angin yang digambar lewat pohon dalam cerpen berjudul Dia Akan Berkembang mulai tampak batang hidungnya. Dalam cerpen ini dikisahkan tentang macam-macam masalah atau gangguan pada pohon selagi ia berkembang. Dimulai dari keinginan untuk mempunyai buah lebat, terpaan badai, sampai pada serangan ulat yang menghabiskan daun-daun pohon itu. Dari situ si pemilik pohon dapat melihat bahwa hidup di dunia ini tanpa adanya tantangan bukanlah hidup sejati.
Cerita-cerita pendek yang Trisno Sumardjo hadirkan tidak hanya menyentil telinga para pejabat negara tetapi juga memberikan wawasan terahadap para pemabacanya akan kebangkitan diri manusia itu sendiri dalam menghadapi kerasnya hidup dalam negeri seusai perang. Nilai-nilai moral yang dikandung dalam cerpennya juga terselubung dalam bahasa indah yang digunakannya.
Seperti pada cerpen yang berjudul Topeng. Di sini Trisno kembali ingin menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari effect perang. Seorang yang bernama Pak Atmo hidup hanya bersama istrinya di tempat yang sunyi dan tentram. Di balik ketentraman itu ada rasa rindu yang besar dalam diri Pak Atmo. Ia kehilangan anak-anak yang merupakan asset penerusnya. Anak-anaknya mati akibat dasyatnya perang. Pada akhirnya Pak Atmo ingin mengobati rasa rindunya itu dengan membuat topeng yang berbentuk sama dengan paras anak-anaknya itu.
Adalagi cerpen dalam kumpulan cerpen Trisno yang berjudul Tiga Hari Di Dunia. Dalam sudut pandangnya yaitu omniscient, Trisno menggambarkan proses melahirkan dengan tokoh utamanya bernama Tini. Tini mempunyai tubuh yang lemah untuk dapat melahirkan dengan sempurna. Memang kemungkinan jabang banyinya selamat sangatlah kecil, namun kegigihan dan kesabaran karakternya bisa membuat pembaca bangkit untuk berjuang melawan ketidakmungkinan itu.  Tapi sayang, memang hasilnya tak memuaskan. Bayi Tini tak dapat tertolong oleh karena jantungnya lemah. Memang dari cerpen Trisno yang satu ini di luar dari contra-nya ia terhadap pemerintah pasca kemerdekaan, akan tetapi nilai moral yang ingin disampaikannya ini sama dengan ke-sembilan cerpen dalam kumpulan cerpennya itu.
Di balik tekanan pemerintahan yang keji itu, Trisno ingin “mengeruk” nilai positive  yang ada dalam setiap diri masyarakat Indonesia. Dengan diksi indah yang ia gunakan, para pembaca bisa merasakan getaran isi hati rakyat yang menderita dan berjuang. Sehingga suara diam mereka dapat menyentil bahkan “menusuk” kedalam telinga si tamak negeri kita ini. 

Tuesday, January 22, 2013

puisi:Kerja Keras Organ

Ada banyak hal yang memacu saya untuk menulis. Terutama untuk sesuatu yang terus mengganggu saya.

Tubuhku bekerja
Bekerja sangat keras
Tak peduli waktu telah larut
Jam sudah tak mengeluarkan detiknya, hanya detak dari jantung yang terdengar
Hati yang bukan organ ini juga tak mau berubah pikiran
Ia semakin berpacu di waktu musik melantunkan liriknya dengan ketukan pasti
Tak mau kalah dengan jantung
Apalagi di saat mata ini mengindeks album kenangan
Kepala menjadi tak bisa bersandar
Mereka semua sibuk sendiri
Hanya pipi dan bibir yang tampak senang
Mereka berolahraga karena si-mata tertuju pada potret senyum tampanmu

Bayangkan jika mata ini bertatap langsung dengan ragamu
Apa yang akan dikerjakan organ lainnya?
Apakah sama seperti si-bibir dan si-pipi?
Saya rasa semua organ akan melakukannya
Bisa-bisa mereka membuat darah mengalir lebih cepat.

Tapi semuanya akan sama keadaanya jika tubuh lain melihatmu
Tubuh yang memiliki mata yang lebih indah
Tubuh yang punya pipi dan bibir yang lebih manis
Tubuh yang darahnya tak merah kelam
Tubuh yang jantung dan hatinya tak langsung berpacu
Tubuh yang tak usah lelah membuat darah mengalir cepat agar mendapat reaksi darimu
Cukup dengan tinggi 160, jaringan epidermis berwarna putih, volume otak besar, wajah yang lengkap dengan indera kualitas impor

Sunday, December 30, 2012

Esai:SUTARDJI VS OTAK PENIKMAT

Ini adalah sebuah esai yang pernah saya buat untuk memenuhi nilai sastra. Yah, memang ini lebih serius dibanding dengan tulisan saya sebelumnya. Silahkan menikmati.


Sutardji Calzoum Bachri
              Sutardji Calzoum Bachri. Mendengar nama  ini kita sedikit kesulitan untuk menghafal dan melafalkannya. Bila kita tak menillik lebih jauh siapakah ia, maka nama tersebut bukan menjadi beban di pikiran kita. Namun, nama tersebut menjadi sangat penting bila kita ingin mengenal sastra kontemporer. Bukan lagi sekedar namanya yang menjadi beban yang rumit bagi otak kita melainkan karya-karyanya itulah yang membuat namanya semakin gencar untuk dijadikan objek sastra yang memukau baik di masanya maupun di masa kini.
Sekarang kita tinggalkan permasalahan mengenai nama. Sutardji Calzoum Bachri kita panggil saja Sutardji, merupakan sastrawan angkatan ’66 yang gemar sekali dengan memainkan kata. Untuk membuat karyanya beliau memiliki ideologi atau istilahnya adalah kredo yang sangat kuat. Kalau ingin bebas ya Sutardji hal tersebut sangat cocok untuk para pengamat sastra yang ingin mendalami arti kebebasan yang sesungguhnya.
 Menulis puisi bagi Sutardji adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Dari pendapatnya ini kita bisa melihat bahwa Sutardji sudah ingin menyampaikan niatnya “Iki-loh karepku” dengan memutar-mutar kata sehingga untuk kalangan yang tak menyukai sastra akan menjadi jengkel dan mengatakan dalam hati “Apa sih maksudnya ?”. Tapi, kembali lagi pada kredo Sutardji yaitu bebas.
Sejarahnya, di masa angkatannya yaitu masa 60-an bersama dengan sastrawan se-angkatanya ingin membuka jalan bagi sastrawan-sastrawan yang dulunya terikat oleh aturan-aturan di zaman penjajahan. Sastrawan-sastrawan memiliki misi untuk meneggakkan keadian terhadap kesewenangan Soekarno—Presiden I Indonesia—melalui sastra. Dilihat dari isi puisi, tampaknya Sutardji mengambil sejarah yang pertama yaitu mematahkan aturan di zaman penjajahan yang biasanya terpaut dengan rima yang beraturan atau alur yang jelas. Di tahun 70-an karyanya semakin bertambah berani karena di tahun 70-an ini karya sastrawan-sastrawan berlatarbelakang semua persoalan kehidupan merupakan ide sastra. Nah, di masa inilah diri Sutardji yang sebenarnya. Kita simak kutipan puisi berikut:
SEPISAUPI
sepisaupi luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisauupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisaunya ke dalam nyanyi
                                                          1973

Puisi yang bejudul Sepisaupi ini sesuai dengan kredo Sutardji. Amat jelas bahwa permainan kata “sepi” dengan “pisau” ini merupakan penyimpangan sintaksis. Dan di sini pula kita bisa melihat bahwa Sutardji sudah menggunakan licentia poetica. Licentia Poetica ini adalah hak untuk membuat karya tanpa terikat dengan aturan gramatikal bahasa Indonesia. Hak ini juga memperbolehkan para pembuat puisi untuk mengunakan kata kotor atau obscene. Hal ini terlihat dari karya Sutardji yang berjudul Gajah dan Semut.
GAJAH DAN SEMUT
tujuh gajah
cemas
meniti jembut
serambut

tujuh semut
turun gunung
terkekeh
kekeh

perjalanan
kalbu
                      1976-1979
Coba kita lihat kata “jembut” yang ada pada bait pertama baris ke-tiga puisi di atas. Jembut adalah kata yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti rambut di sekitar kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Kata tersebut juga merupakan umpatan dalam bahasa Jawa. Ini berarti Sutardji menggunakan lincentia poetica lagi. Dari kedua puisinya ini juga bisa kita lihat bahwa di awal kata pertama tidak menggunakan huruf besar. Perlakuan yang sama juga ada pada puisinya yang berjudul Walau. Ia berani-beraninya menulis kata “allah” dan “tuhan” dengan huruf kecil, ini berarti ia lagi-lagi melakukan penyimpangan.
Sutardji juga bisa dibilang pujangga berhati peri. Status ini terbukti jelas dalam puisinya yang berjudul Idul Fitri. Ia merangkai kata-kata yang ia sebut dengan bermain kata dengan memilih kata-kata yang sedikit sulit dicerna oleh pikiran telanjang, menggunankan istilah yang suci yang diambilnya dari Al-Qur’an sehingga puisi Idul Fitri ini menjadi salah satu puisi rohani Sutardji dengan estetika bahasa yang sangat tinggi. Dalam puisi ini Sutardji tampak merendahkan dirinya sebagai pemabuk yang berbicara melalui doa kepada Tuhan Sang Pencipta. Hawa rohani dalam puisi ini akan menggetarkan kepada setiap pembaca meski sulit, tetapi itu bukan menjadi alasan untuk tidak setuju bahwa puisinya ini benar-benar layaknya doa yang agung.
Sekali lagi menjadi misterius adalah keahlian dari Sutardji. Bagaimana tidak, semua karya-karya Sutardji bagaikan seorang ninja yang mengendap di sunyi malam. Ya, tidak tertebak tidak terpikir. Itulah Sutardji. Mulai dari tulisan hingga maknanya yang berati maksud hati Sutardji, merupakan fenomena alam di era global warming, absurd.
Bagi para awam atau pemula, membaca atau mendengar karya dari Sutardji bisa menjadi mimpi buruk, bukan karena isi atau ada gambar kuntilanak dalam karyanya tetapi bahasa dan kata yang digunakan Sutardji sangat abstrak (terkadang). Hal ini di dasari oleh kredo Sutardji. Kata adalah mantra. Namun apakah semua orang bisa memaknai mantra?
Dipahami dan memahami berkaitan langsung dengan diapresiasi dan mengapresiasi. Penulis dan pembaca juga memiliki hubungan yang erat. Hal ini merupakan tembok bagi Sutardji karena credo Sutardji yang sangat mengganjal di otak para penikmat karya Sutardji yang termakan njelimet-nya karya Sutardji.

Eight yang belum Huit

Ini saya

 

Ini Keke

 

Ini Ndoh

 

Ini pas pesta perak romo han

 

Ini ping-pong

 

Ini Nchi


SOEK

Hari ini adalah hari Minggu, dua hari sebelum tahun baru 2013. Hari ini diawali dengan sesuatu yang yang mengganggu. Yah, yang namanya penyakit bulanan perempuan selalu melanda tanpa minta izin terlebih dahulu. Rasa gerah dan risih tambah semakin diri ini malas untuk melakukan kewajiban. Sebenarnya bukan bulanan saja yang membuat hari ini mengganggu baik fisik maupuk psikis, namun juga karena pengaruh kebiasan suka membaca info bintang a.k.a Zodiak hari ini. Ngomong-ngomong masalah zodiak, akhir-akhir minggu ini saya sering sekali up to date mengenai ramalan sang bintang karena di saat iseng-iseng melihat bintang Taurus, eh... ga taunya sesuai banget  dengan kejadian hari dimana aku melihat ramalan itu.
 Gini ceritanya:
Hari ini merupakan hari teman, cinta, keluarga .bla..bla...bla... dan rating bintang kamu hari ini 4 dari 5.---> Taurus.
Hari ini kamu harus berhati-hati untuk mengambil tindakan karena akan mempengaruhi orang kamu cintai dan rating bintang kamu hari ini 2 dari 5---> Taurus

*ramalan di atas tidak semirip yang ditulis oleh penulisnya. Ini hanya beberapa inti yang saya tangkap.

Jelas dari beberapa sampel di atas merupakan sampel yang menurutku itu benar-benar terjadi di dalam hari itu. Jadi, di hari ini aku membaca ramalan bintang Taurus. Namun, ramalan yang aku tunggu-tunggu (sebentar saya jelasin kenapa saya tunggu-tunggu-----> ceritanya kemarin tanggal 29/12/12 itu bintang saya mendapat rating 2 itu artinya apes kalau orang jawa bilang jadi saya ga berani lihat bintang saya untuk hari ini)tidak menampakkan rating yang tinggi, ya ... Taurus hari ini dapat rating 2.

Setelah mendapatkan berita yang memilukan itu, saya tambah BM alias bad mood. Coba kemarin saya bertirakat dengan benar, pasti rating hari ini 5 sempurna. Pingin menghilangkan BM akhirnya saya hampir setengah hari browsing, downloading, and searching at mozilla. Belum lagi ada tambahan kicauan omelan mama yang sebenarnya biasa tapi karena faktor V bukan X lengkap sudah BM hari ini.

Sebenarnya hari ini masih ada hal yang aku tunggu. Hari ini adalah hari pertunangan teman ku--Mbak Ika-- yang dimulai jam 7 malam. Dibilang acaranya biasa sih, nggak, dibilang luar biasa juga nggak. Temanku yang satu ini sudah saya anggap kakak karena umurnya yang matang, pribadinya yang keprikakakan bikin saya semakin nyaman walaupun tak dekat. Langsung saja ke topik yang bikin kenapa saya menunggu adalah jeng-jeng-jeng....
Mbak Ika mengudang "Soek" ...
Soek...
panggilan ini sih hanya samaran, tapi saya selalu merasa ada suatu fantasi tersindiri bila aku mengingat dan mengucapkannya.
Sudah amat lama saya tak bercakap dengannya
Tapi ketika dia ada lagi selalu ada dua dunia yang mengapitku
Ingin tapi tidak
Benci tapi rindu
Marah tapi kagum
Sedih tapi tersenyum

itu yang aku tunggu bukan sekedar nama tapi rasa itu.

Saya tak menceritakan tentang proses Mbak Ika mengundang Soek tapi saya akan bercerita langsung ketika acara dimulai.

Saya dan Indah datang tepat pukul 7 jadi kita duduk di depan rumah. Acara yang sederhana namun mengena (bagi keluarga Mbak Ika dan semua undangan).
Petikan nilon dari sebuah gitar akustik memulai acara mengiringi lagu pembukaan. Genjrengan kerennya petikan nada tersebut sudah dapat ku tebak dari luar. Yap, Soek yang melakukannya. Tak sedikit umat yang yang tak mengenal kebolehannya dalam memainkan alat musik apalagi gitar yang picisan. Sebenarnya saya ingin di dalam melihatnya namun, yah....
Tiba saatnya Romo Kati berkotbah. Kotbah beliau pastinya berhubungan dengan masalah tunang-menunang. Yang bikin saya tertawa sendiri adalah di saat Romo menyinggung komunitasnya Soek agar bisa menyimak baik2 tentang masalah pasangan karena sudah jelas nantinya ia akan bertugas sama seperti Romo. hahahahaha....

Ini lagi yang bikin saya ngelamun di tengah-tengah orang itu Indah. Anak satu itu malah nyanyi dengan nada pales "S'lamat.. jreng..kuucapkan". Duh, pinginnya mrekes tuh mulut bocah satu itu. Sekarang, lanjut acaranya
Saya skip saja langsung selesai makan-makan. oke!
Jadi begini, Mbak Ika tuh  keluar nyalamin tamu terus nyuruh kita jangan pulang dulu karena mau foto2 (biasa penyakit anak muda jaman sekarang yaitu menganut paham narsism). Secara otomatis ketemu deh, dengan Soek dan berjabat tanganlah saya dengannya.
Rasa deg-degan sudah tak ada lagi seperti dulu. Namun, dengan ketekatanku aku membulatkan diri supaya apapun rasa yang kuterima ketika berhadapan, bercakap, bersalaman dengannya itu bukanlah suatu tanda apapun.

Saya dan Soek itu hanya sebuah alur yang hanya perangkai cerita bukan sebagai inti atau klimaks.
Sampai saat ini saya berusaha, berusaha, dan terus berusaha menjadi seorang perempuan yang mampu membuat cerita perempuan yang hebat yang tak sekedar jatuh dan lemah karena hati. Bukan sekedar menjadi reminder masa lalu yang bahagia2 melulu atau jemu2 melulu.

Bukan hanya tapi sebuah keinginan dan resolusi ku di tahun 2013 adalah menjadi perempuan pekerja keras yang tak cengeng

Untuk hari ini, terima kasih telah menampakan diri dan aura pembuat aku kagum selama ini. Dan akhir kata juga turut Suka cita untuk Mbk Ika serta berita terakhir untuk tetanggaku---> turut berduka cita semoga arwahnya diterima oleh Tuhan.